Saudaraku!, betapa banyak engkau melakukan kemaksiatan! Kapankah engkau mau bertaubat? Jiwamu sarat dengan senda gurau, dan hatimu kosong dari ketakwaan. Engkau menyia-nyiakan waktu muda dengan permainan, dan di waktu senja engkau menangisi masa muda yang telah engkau lalaikan.
Dalam majelis pengajian engkau menangis terhadap sesuatu yang telah hilang. Jika engkau keluar darinya, engkau akan kembali melakukan pelanggaran. Tak ada daya bagi nasehat yang kuberikan selama pintu telah ditutup di hadapanmu. Berkali-kali aku menyentuh hatimu, namun kulihat hatimu telah hilang bersama mereka yang telah kehilangan hati nuraninya.
Wahai yang hatinya berada dalam kesibukan, bagaimana engkau dapat memahami pembicaraan. Engkau sungguh telah membuat iblis bersuka ria jika engkau diusir dari hadapan-NYA. Ini adalah ratapan kesedihan. Alangkah mengerikan orang-orang yang diabaikan, yaitu mereka yang diabaikan oleh-Nya dan tidak menemukan lagi penyebab untuk mendekati-Nya.
Wahai orang-orang yang terhalang dari menemani para kekasih-Nya, bersungguh-sungguhlah dengan penuh kerendahan dan tumpahan air mata, lalu katakan. “Aku tersesat di daerah terlarang yang mencelakakan orang yang melewatinya. Aku ibarat orang yang telah diletakkan di hadapanku penghalang. Setiap kali aku ingin berdiri maka aku didudukkan dan dijauhkan oleh para pengawal karena dosa-dosa yang aku lakukan. Aku tidak memiliki bekal, kenderaan dan kekuatan. Kemanakah aku akan pergi? Semoga kelembutan dibalik tirai kegaiban memudahkan bagiku akan beratnya penderitaan.
Demi Allah, alangkah bahagianya orang-orang yang telah menyaksikan akhirat tanpa perantara. Mereka telah melihat apa yang telah disiapkan oleh Allah Ta’ala. Apakah gerangan yang menyebabkan mereka menguruskan jasad-jasad mereka dan menjadikan tenggorokan mereka kehausan, mereka meninggalkan tempat tidur dan menjadikan dzikir kepada-Nya sebagai tujuan utama mereka?.
Berkata Wahab bin Munabbi,” Allah telah mewahyukan kepada salah seorang nabi,’sesungguhnya jika engkau ingin tinggal bersamaku di wilayah yang suci, maka jadilah engkau sendirian di dunia, menyendiri, risau dan sedih bagaikan burung yang menyendiri disuatu hamparan bumi yang luas. Ia minum dari air mata, dan makan dari ujung-ujung dedaunan. Apabila malam telah tiba, ia mencari perlindungan seorang diri karena takut pada burung-burung yang lain dan ingin mencari ketentraman pada Tuhannya. ( lautan airmata : Ibnu Aljausy )
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment